Sunday, 8 March 2009

The Secret of Gorilove

Kalo dihitung-hitung saya udah bikin 3 novel sepanjang hidup saya. Tapi yang keluar jadi buku baru satu; Gorilove, dan itu Based On True Story pula. Kedua novel sebelumnya adalah murni fiksi, based on my imagination only, genrenya pun bukan komedi tapi novel serius. Oke, novel serius dan gagal terbit..

Tapi dari sini saya uda bisa membaca jiwa menulis saya yang ternyata condong ke komedi. Dan mengacu pada judul posting-an diatas; The Secret of Gorilove, saya ingin nyeritain sedikit keluh-kesah, suka-duka,jatuh-bangun, jongkok-bediri ketika nulis gorilove. Ini dia :

ehem, tunggu dulu....saya ke toilet sebentar...

...................

..................

Oke, udah.

Menulis cerita based on true story ternyata berbeda dengan nulis fiksi yang murni rekaan. Dimana bedanya? Perbedaan paling mencolok yg saya rasakan adalah proses penulisannya. Proses pembuatan Gorilove relataif jauh lebih cepat daripada dua naskah saya sebelumnya. Naskah awal Gorilove rampung saya selesaikan sekitar dua bulan. Sedangkan dua novel saya sebelumnya selesai dlm 1 tahun dan 6 bulan. Mengapa demikian? Karena eh kerena, cerita kisah nyata idenya berasal dari potongan-potongan pengalaman yang kita tata (tata ini bukan nama editor saya, catet) sedemikian rupa hingga menyambung satu sama lain, jadi idenya udah ada dalam otak dan kita tinggal menghubungkan satu sama lain dan mengembangkannya. Sedangkan cerita yg murni rekaan proses kreatifnya lebih lama karena kita yang menciptakan dan mengimajinasi adegan dan kejadian, bukan mengalami kejadian itu. Kira-kira itu yang membuat proses penulisan Gorilove relatif cepat .

Setiap proses penulisan pastilah mengalami kendala (apalagi ketika menuliskan jawaban soal ujian sistem Mikroprosessor pak Stevy, maut dah!). Begitu juga dalam menulis Gorilove. Hal yang cukup sulit adalah bernegosiasi dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oke, negoisasi dengan Icha tentunya. Gorilove berisi kisah cinta pribadi Dimas-Icha, dan tentunya tak hanya mengobok-obok kehidupan Dimas (iya saya itu) tapi juga mencomot sisi kehidupan Icha. hal itu membuat saya wajib untuk berkoordinasi dengan dia. Negosiasi cukup berjalan sedikit alot karena ada beberapa part yang Icha tidak mau untuk di-publish, sedangkan saya ingin menulisnya karena mengandung pasen yg ingn saya sampaikan. Rumit pokoknya. Tapi dengan kerja keras plus bujuk rayu akhirnya jadi juga itu naskah, walaupun saya yakin masi ada part yang Icha enggak suka dan enggak ridho. hehehe... Thanks to Icha atas sedikit banyak kerelaanya. Bagaimana dengan Tokoh lain? hmm...ada beberapa tokoh yang namanya saya samarkan karena saya enggak izin..hehehe..saya memang penulis nakal. Kendala yang lain adalah bagaimana men-generate kelucuan dalam bahasa tulis. Hmm..itu kesulitan tersendiri dan saya harus banyak belajar ama Adhitya Mulya (Jomblo), Raditya Dika (kambing jantan), Roy Saputra (The Maling Of Kolor), Hilman (lupus), Hendri Lukman (sarjana Kebut Skripsi), Boim Lebon (Donworibihepi) dan penulis-penulis beken lainnyaaaa...

Sisi lainnya, Mmenulis Gorilove membuat saya teringat lagi pada masa kecil di aceh dulu, dimana saya tumbuh berkembang dan bergaul dengan teman-teman yng multi suku namun asik punya. Dan menulis Gorilove membuat kerinduan saya akan hal itu sedikit terobati. Apalagi ketika melihat reaksi temen-temen masa kecil saya yang suportif dan senang banget ketika baca Gorilove. Hmm...writing to make people smile. That's my motto..

Oke..mungkin segini aja keluh kesah saya. Semoga berguna bagi anda, nusa, bangsa, dan MASA MUDA!!! (ga ada hubungannya? biarin)


-Writing to make people smile_
Abie With Love


5 comments :

ladhyrangerbiru said...

bagus.
*gatau ya mau komen apa. hahaha*

Mohamad Agung P N said...

bie inget ye
lain kali kalo nulis novel jangan masukin dosen
ntar waktu dosennya minta novelmu
nyari2 alasan biar ga' ngasih
wkwkwkwkwkwkwkwk

bie-kun said...

makanya ini tak keep dr pihak dosen...lha km malah ember gung..waaaaaa

dim said...

PR buatmu:

http://idim17th.wordpress.com/2009/03/11/2nd/

Anonymous said...

Traditionally, Ugg Boots rugby boots were of a high cut Uggs above the ankle to provide additional Cheap Ugg Boots ankle support. This was seen as appropriate Ugg Boots UK given the nature of the game,UGG Australia particularly the stresses of forward play, Ugg Boots Sale and the amount of physical contact involved and to provide protection against knocks