Wednesday, 31 December 2008

Tips dan Trik ke pasar

Pergi ke pasar tradisional harus memiliki seni tingkat tinggi. Sebab pasar tradisional bukanlah Hypermart. Di Hypermart ada sisi sosialisasi yang dihilangkan, yakni antara penjual dan pembeli. Enggak lucu aja kalo misalnya belanja di Hypermart, harus nanya dulu ke sang manager Swalayan: ‘Ni daging sekilo berapa cong?’


Di pasar tradisional tentu jauh lebih kompleks, interaksinya mengena baik di sisi sosial dan psikologi.


Ini dia tips dan trik ke Pasar Tradisional. Hueheuehe…


  1. Masuklah seolah-olah anda mengenal pasar itu. Berjalanlah seolah-olah anda sering ke pasar itu. Jangan menunjukkan ekspresi blo’on anda seperti tolah-toleh enggak jelas, garuk-garuk kepala, atau main futsal di pasar. Tidak boleh. Anda harus pede, berjalan dengan pede. Mungkin bisa ditambah dengan bersiul-siul, atau bernyanyi kecil mendendangkan lagunya Kangen Ben. Tapi jangan coba-coba menyiuli (saya belum menemukan kata yang tepat selain menyiuli) cewek seksi yang mangkal di sana, sebab dapat dipastikan itu adalah pacarnya bos preman. Bisa-bisa anda pulang tinggal celana.

  2. Kenali karakteristik penjual. Jika penjual berasal dari daerah Jawa, gunakan bahasa Jawa. Jika penjual berasal dari daerah minang, gunakan bahasa minang. Logis ya, kalau penjualnya orang lubuk linggau dan kita ngomong pake bahwa Jawa, apa jadinya? Dengan mengenal karakterisktik penjual, secara tidak langsung kita sudah masuk area aman dimana sisi psikologis penjual dan pembeli terjalin. Lebih beruntung lagi jika sang penjual adalah gadis desa yang lugu dan manis, karena setelah acara jual beli selesai, bisa di lanjutkan jalan-jalan ke Mall dan nonton bareng. Setelah itu bisa diteruskan ke hubungan yang lebih serius. Tapi ingat, komunikasi dan saling percaya harus di jaga, agar hubungan anda langgeng…loh?

  3. Tawar setengah harga lebih rendah. Jika sang penjual mematok harga Rp.50.000,00, tawarlah menjadi Rp 25.000. Jika sang penjual memasang harga Rp 20.000,00 tawarlah menjadi Rp10.000. Tapi jangan coba-coba untuk menawarnya menjadi GRATIS. Karena anda akan mendapatkan tamparan, ludah, plus caci maki.

Pembeli: Gurami sekilo berape?

Penjual: lima belas rebu, non!

Pembeli: Gratis boleh ye?

Penjual: “….” (berfikir keras bagian tubuh mana yang kalau dipukul pake ikan Gurame lima kilo, bakal menimbulkan efek yang signifikan)


Catatan: Tips nomor dua tidak bisa diaplikasikan jika anda adalah warga asli pribumi yang berkulit cokelat dan berambut keriting, sedangkan penjualnya adalah warga Indonesia beretnis Tiong Hoa. Contoh kasus, percakapan seperti di bawah ini.



Setting -> di toko hewan piaraan

Tokoh -> Penjual etnis tiong Hoa, pembeli asli pribumi plus kulitnya item.

Penjual: Haiyaa…wo punya balang-balang bagus disini aaa... Lu olang boleh liat-liat dulu aaaa. Masalah halga terljangkau aaaa….


Pembeli: Uhuk-uhuk..(batuk)


Penjual: Lu olang batuk? Minum OBH Combi aaaa…


Pembeli: Haiiyaa..telimakasih aaa… Kalo gitu wo butuh ulal-ulal yang bisa melingkal-lingkal di atas pagal. Wo suka sama ulal kalena dia lucu aaa…


Penjual: LU OLANG NGEJEK GUA YA??? (kemudian Mencari ular yang sangat berbisa untuk mematok mulut si pembeli. Berkali-kali.)


Semoga tips dari saya ini membantu..



_Pasar Is The best_

Abie With Love

2 comments :

alfalive said...

thanx mas untuk tips n trik nya.. insya Allah sangat berguna sekali... Saya ini termasuk orang yang cupu sekali kalo di pasar tradisional... hehehe...

*ada ada aja Abie ini...*

bie-kun said...

Sama-sama yan..mhuehehe