Tuesday, 23 December 2008

The mBadogger

Hari minggu kemaren adalah penutupan Pelatihan PLC klasikal, dimana saya dan beberapa teman menjadi panitia. Alhamdulillah acara berjalan dengan sukses dan ini yang paling penting: UNTUNG! ada ritual yang biasa dilakukan setelah kegiatan berakhir, yaitu MAKAN-MAKAN. Melihat keuntungan yang kami dapet, sudah hampir dipastikan kami bakal makan ditempat yang oke punya ciamik maknyus. Dan kami sepakat untuk melakukannya di hari senin… Senin ceriaa....senin ceriaaaaa…


Ternyata senin tak begitu ceria di siang hari, sebab saya dan Agung (temen saya yang perutnya segede gaban) seharian menjalani profesi ganda sebagai tukang. Yah, akulah tukang yang ganteng. Seharian kami berdua motong kayu peke gergaji dengan peluh yang menetes tiada henti, dan sesekali bersin akibat serbuk kayu yang nyolok mata. (nyolok mata kok bersin?). Tapi kami adalah lelaki, dan yang namanya lelaki haruslah pantang menyerah dan optimis, bantuan pasti kan datang. Dan benar saja, beberapa bala bantuan segera datang dan pekerjaanpun selesai.


Siang itu bener-bener capek. Karena itulah saat itu saya bertekad: Saya harus makan banyak malam ini!!!! Habisin semua makanan!!! Gebet Horikita Maki!


Malamnya tepat pukul tujuh, panitia berkumpul. Sekadar ngabsen, malam itu panitia yang ngumpul adalah Saya, Agung, Indra, Andhika, Nyoman, dan Tito. Dan panitia yang berhalangan (berhalangan beneran, bukan gara-gara lagi dapet!) adalah Mas Kul-kul, Mas Semi, dan Jimbot. (panitia sangat amat bersyukur dan nyaris bikin acara syukuran besar-besaran satu kampung gara-gara Jimbot berhalangan hadir..hehehe..)


Tujuh lebih lima menit, kita tetapkan tujuan yaitu **#*(@(# (sengaja disensor karena enggak boleh nyebut merk) sebuah restoran masakan Italia yang all you can eat. Otak mahasiswa seperti saya tentunya menangkap kalimat “All you can eat” sebagai “Jatah makan seminggu yang dihabiskan selama satu malam.”


Tak lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke TKP, dan kami langsung di sambut oleh mbak pelayan yang maaf-maaf bedaknya lebih tebel daripada kulit biawak. Ingin rasanya berkomentar, “Ya ampuuun, pake bedak berapa kilo mbaaak???” Tapi saya sadar, komentar itu hanya akan membawa muka saya ke penggorengan.


Dengan seyumnya yang ramah, si mbak menyambut kami dengan natural.
“Silakan, mau ambil makanannya langsung atau mau pesen minum dulu? Kita sedia jus. Ada jus mangga, melon, jambu, durian, alpukat, dan lain-lain?”


Si mbak terlihat sangat natural, namun menyimpan misi khusus. Hmmm…si mbak melupakan detail yang harusnya ia tangkap, yaitu bahwa kami berenam adalah mahasiswa Teknik Elektro ITS bidang studi Teknik Sistem pengaturan yang ganteng dan sudah lulus mata kuliah teknik variable state. Kami tentunya tahu bahwa minum jus di awal kedatangan merupakan ‘kesalahan terbesar’ yang dilakukan di dalam restoran “all You can eat”. Sebab dengan meminum jus kita akan Kenyang. Minum Jus = Kenyang diawal =Rugi! Jika mbak pelayan adalah kadal, maka kami adalah komodo. Masa komodo dikadalin? Akhirnya kami sepakat untuk berkata “TIDAK”.


Kami beranjak untuk mengambil makanan. Sekilas mirip warung deket kos-kosan yang makanannya disajikan secara prasmanan dan kita bebas untuk mengambil semaunya sampe perut brojol. Cuma bedanya disini enggak ada pindang, tahu, tempe, atau sambel teri. Yang ada ya masakan Italia.


Kami disambut lagi oleh mbak pelayan yang lain. Dia tersenyum senatural mungkin, namun masih menyimpan misi khusus. “silakan mas, mau coba lassagne?” Sangat-sangat natural. Tapi ingat, kami berenam adalah mahasiswa Teknik Elektro ITS bidang studi Teknik Sistem pengaturan yang ganteng dan sudah lulus mata kuliah teknik variable state. Kami tak bakal tertipu. Dilihat dari tampilannya aja, Lassagne udah bikin kenyang. Apaligi dimakan? Bisa-bisa uda KO sebelum nyoba semua makanan yang ada! Akhirnya dengan tersenyum kita sepakat untuk melupakan Lassagne.


Disinilah yang membedakan kami berenam dengan pengunjung lainnya. Jika pengunjung lainnya adalah bayi yang imut, sedang lucu-lucunya, yang mana mengkonsumsi makanan secara tertata dengan kuantitas secukupnya, maka kami bereman adalah: Genderuwo berwujud manusia yang sudah pasang misi untuk menghabiskan gudang makanan beserta cadangannya! Ini terlihat dari prilaku memamah biak kami yang diluar nalar manusia. Inilah rekapitulasi hasil kebiadaban kami:


1.Andhika = empat piring masakan italia, empat hotplate, dua mangkuk sup, dua mangkuk pudding, dan,,,aduh banyak deh…gila Dik, itu perut apa gentong???
2.Saya = Tiga piring masakan Italia, dua hotplate, satu mangkuk pudding, tiga gelas minuman….hmmm, standar yah? Saya kan kurus…
3.Nyoman = Tiga piring masakan Italia, satu hotplate, beberapa gelas minuman, dan es buah…lumayanlah..
4.Agung = Dua piring masakan Italia, dua hotplate, beberapa gelas minuman…perut bole segede gaban, tapi masih kalam ama saya..hihi
5.Tito = Dua pring masakan italia, dan dua hot plate (dan dua-duanya salah pesen..hehe), dan minuman
6.Indra = Ah gak usah disebut, ini mah paling cupu…masa makan dikit udah kenyang? Malu-maluin negara, Ndra!


Semoga kita bisa kembali lagi ke restoran itu…heheheh


Mbadog is amazing
-Abie With Love-

2 comments :

Andhika said...

Cuman makan dikit doank kok. Aq itung2 paling 12 piring n 2 gelas minum. Ya cuman bisa makan segitu aja cz aq pagi, siang n sore sebelum acara mautny pronto aq ud makan... Kroscek qt bukan anak ganteng aja tapi anak yg keren, cool n msh bnyk hal2 indah yg blm kepikiran

Anonymous said...

Traditionally, Ugg Boots rugby boots were of a high cut Uggs above the ankle to provide additional Cheap Ugg Boots ankle support. This was seen as appropriate Ugg Boots UK given the nature of the game,UGG Australia particularly the stresses of forward play, Ugg Boots Sale and the amount of physical contact involved and to provide protection against knocks